bet365 UK

wordpress joomla template

465 Tahun Semarang Banner alt 3

Semarang: My City, My Life

Written by daniel on . Posted in Semarangan

Semarang: My City, My Life. Kalau selama ini biasa “narsis” aka foto diri di berbagai tempat di Kota Semarang ini, ayo unggah foto Paramitra di fanpage Gajahmada FM Semarang atau twitter @GajahmadaFM. Untuk fanpage, setelah mengunggah foto, tulis di bagian komen, Semarang: My City, My Life – Nama Lengkap. Sedangkan untuk twitter tulis #SemarangMyCityMyLife dan mention @GajahmadaFM. Ayo merayakan ulang tahun kota tercinta dengan ekspresi diri di berbagai tempat menarik dan ikonik Kota Semarang.
465 Tahun Kota Semarang, Bersama Membangun Semarang Sejahtera.
465 Tahun Semarang Banner alt 2

Sejarah Semarang

Written by daniel on . Posted in Semarangan

Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga kini terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang bawah yang dikenal sekarang ini, dahulu merupakan laut. Pelabuhannya diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang, dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Pada akhir abad ke-15 M, ada seorang utusan Kerajaan Demak, yaitu Pangeran Made Pandan, untuk menyebarkan agama Islam di perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu, daerah itu semakin subur, dan dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan nama daerah itu menjadi Semarang. Sebagai pendiri desa, Made Pandan kemudian juga menjadi kepala daerah setempat dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Kepemimpinan Semarang dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, Semarang diputuskan menjadi setingkat dengan Kabupaten. 2 Mei 1547, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Semarang disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Semarang. Pada tahun 1678, Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya. Dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705, Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu, Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1906, dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906, dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Wali Kota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda dan berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang. Pada masa Jepang, terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang dikepalai militer (Shico) dari Jepang. Kepala pemerintahan didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945, terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada tentara Indonesia. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari di Semarang. Tahun 1946, lnggris atas nama pasukan sekutu menyerahkan Semarang kepada pihak Belanda. Ini terjadi pada tangga l6 Mei. Tanggal 3 Juni 1946, dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, Wali Kota Semarang yang berkuasa sejak sebelum proklamasi kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda, tidak ada pemerintah daerah Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian di luar kota sampai dengan bulan Desember 1948. Daerah pengungsian berpindah-pindah, mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R. Patah, R. Prawotosudibyo, dan Mr. Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa kolonial dahulu dibawah pimpinan R. Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil karena dalam masa pemulihan kedaulatan Indonesia, Belanda harus menyerahkan daerah yang didudukinya kepada Komandan KMKB Semarang. 1 April 1950, Mayor Suhardi, Komandan KMKB, menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr. Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri di Yogyakarta. Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan. Artikel ini diambil utuh dari http://arpusda.jatengprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=690:sejarah-kota-semarang&catid=154
465 Tahun Semarang Banner

2 Mei 2012

Written by daniel on . Posted in Semarangan

2 Mei selain diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, juga momentum penting bagi warga Kota Semarang. Tahun ini, ibu kota provinsi Jawa Tengah genap berusia 465. Di antara berbagai pembangunan kota yang terus berlangsung, mari sejenak mengenang tempat-tempat yang telah tiada tapi tidak bisa dipisahkan dari sejarah kota ini. Bagi generasi yang hidup di era 70-an hingga 80-an pasti sangat mengenal Gedung Olahraga (GOR) Simpang Lima. Letaknya strategis, sesuai dengan namanya, di pusat kota Semarang. Simpang Lima menjadi pengganti dari alun-alun Semarang yang ada di Kauman. Di sebelah barat GOR Simpang Lima, terdapat Masjid Baiturrahman; dan di sebelah timur ada Wisma Pancasila yang akhirnya pun lenyap dan berubah wajah menjadi Plasa Simpang Lima, sebuah pertokoan dan pusat perbelanjaan berlantai tujuh. Tak terhitung berapa banyak kegiatan digelar di GOR Simpang Lima, mulai dari olahraga hingga konser musik; dari tingkat nasional hingga lokal, bahkan tingkat sekolahan. Di tempat yang sama, Ahmad Albar mengalami dua peristiwa yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan: 1) rencana konsernya dilarang oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu karena dianggap tidak sesuai dengan budaya Jawa Tengah; 2) kebangkitan God Bless di era 80-an dimulai dengan konser tur Jawa-Bali dengan kota pertama yang disinggahi adalah Semarang. Dalam konsernya, God Bless berusaha mengangkat kembali namanya dengan membawakan lagu-lagu Deep Purple. Konser dibuka oleh Jaguar dengan vokalisnya almarhun Miki Jaguar, dengan membawakan lagu-lagu Rolling Stones. Dilanjutkan penampilan El Pamas, sebuah band dari kota kecil Pandaan, Jawa Timur. El Pamas saat itu mengusung lagu-lagu Led Zeppelin. Sedangkan kegiatan lokal yang cukup membawa banyak nostalgia bagi anak muda Semarang pada waktu itu adalah Festival Band antar SMA. Promotornya adalah sekelompok anak muda yang cukup terkenal di Semarang yakni SEC. Festival ini benar-benar menjadi barometer musik di Semarang pada saat itu. Favorit juara tidak pernah lepas dari SMA Loyola, SMA 1, dan SMA 3. Tiga sekolah favorit di Semarang itu seolah mendapat giliran untuk menjadi juara. Sayang, semua itu lenyap di akhir 80-an. GOR Simpang Lima ditukar guling dengan Mal dan Hotel Ciputra. Sebagai gantinya, pengembang membangun GOR Jatidiri di kawasan Karangrejo. Artikel ini diambil hampir utuh dari tulisan berjudul “Mengenang GOR Simpang Lima” yang ditulis oleh Taufan tertanggal 9 April 2010 di http://opojal.com/baca/2010/04/09/mengenang-gor-simpang-lima.html  

Ayo Wisata ke Semarang

Written by daniel on . Posted in Semarangan

Semarang, CyberNews. Bagi Kota Semarang, pesona keindahan wisata religi, budaya, dan kuliner mempunyai nilai jual tersendiri. Demi mewujudkan dan membangkitkan pesona wisatanya, Pemerintah Kota Semarang tengah fokus menggarap potensi wisata daerahnya dengan mencanangkan program “Ayo Wisata ke Semarang”. Wali Kota Soemarmo H. S. mengatakan, Pemkot akan menggalakkan dan mengandalkan tiga potensi daerah, yaitu wisata religi, budaya dan kuliner. Program “Ayo Wisata ke Semarang” akan diluncurkan 11 November 2011, sekaligus menjelang Visit Jateng Year 2013. Dari segi kesiapan, memang belum siap sepenuhnya. Masih banyak objek wisata yang mesti dibenahi, seperti Kelenteng Sam Poo Kong yang terus digiatkan kebersihannya. Namun beberapa objek wisata lainnya sudah layak menjadi destinasi wisata, di antaranya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Gereja Blenduk, dan Lawang Sewu. Program ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menggugah masyarakat lebih mencintai potensi wisata di daerah mereka tinggal. Adapun wisata alam, meski beberapa objeknya belum bisa diandalkan, tetap memiliki nilai jual, seperti Gua Kreo, Taman Margasatwa Mangkang, dan Taman Lele. Semarang juga memiliki industri atau kerajinan yang layak dijual. Misalnya pabrik keramik Sango, Wee Bee Galeri, dan lain sebagainya yang sudah memiliki branding kuat. Bahkan delegasi Torch SEA Games pernah mendatangi industri tersebut. Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang Hanik Khoiru Solikah mengatakan, sudah saatnya Pemkot berani mempromosikan wisata yang ada di kota Semarang. Selama ini aspek promosi kurang diperhatikan. Kalaupun ada hanya bersifat untuk melaksanakan kegiatan yang sudah dianggarkan dalam APBD. Akibatnya dunia pariwisata geliatnya kalah dengan kota-kota lain di Indonesia. Padahal kalau bicara soal potensi wisata, Semarang tidak kalah.

Buaian Sa’Unine di Semarang

Written by wulan on . Posted in Semarangan

Sa’Unine, dalam bahasa Indonesia bisa diartikan “asal bunyi”. Namun  tidak demikian yang disuguhkan 45 musisi String Orchestra Sa’Unine, yang membuai penikmatnya di Semarang. Dua hari “Ngamen Tamasya 2011″ di Kota Semarang, Sa’Unine membuat merinding penonton di Auditorium Gedung Albertus Unika Soegijapranata, Sabtu malam 17 September lalu. Tak berbeda rasa saat tampil keesokan paginya di ruang terbuka, Sa’unine kembali membuat wisatawan di Lawang Sewu terkagum-kagum. Beberapa alat musik gesek diantaranya violin, viola, cello dan contra bass, mengalun harmonis lewat arahan konduktor Oni Krisnerwinto. Sebagian lagu-lagu yang dimainkan dalam “Ngamen Tamasya 2011″ ini,  ada di dalam Album kedua Sa’Unine “Buaian Sepanjang Masa”. Album ini berisi lagu-lagu buaian dari berbagai daerah di Indonesia, seperti “Nina Bobo”, “Tak Lelo Ledhung”, dan “Timang-timang”. Sebagai penutup pertunjukkan, Dolanan Pizzicato yang menampilkan medley “Gundul-gundul Pacul”, “Jaranan”, dan Cublak-cublak Suweng yang diaransemen dengan apik, semakin memuaskan telinga para penonton. Bukan hanya di Semarang, dalam roadshow promo Album keduanya ini, Orkes gesek yang didirikan sejak 9 juni 1992 itu, juga “Ngamen Tamasya” ke beberapa kota lain. Setelah Jakarta, Bandung dan tampil di Semarang, Sa’Unine lanjut “Ngamen Tamasya 2011″ ke Salatiga, Solo, Malang dan Surabaya.  

Selamat Datang di Semarang

Written by daniel on . Posted in Semarangan

Kota Semarang menyambut kedatangan delegasi negara-negara anggota ASEAN. Ya, tanggal 8-11 Oktober nanti, Kota Atlas akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Dewan Komunitas Sosial Budaya ASEAN atau ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) Council Meeting dan Pertemuan Komite Pejabat Senior untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN atau Senior Officials Committee for the ASCC (SOCA). Para pejabat setingkat menteri dan wakil menteri ini akan membahas isu-isu pilar sosial budaya di kawasan ASEAN. ASCC Council Meeting akan fokus pada pembahasan pemeliharaan SDM dan tenaga kerja, budaya dan alam untuk pembangunan yang harmonis dan berorientasi pada masyarakat ASEAN. Pertemuan ASCC akan diisi dengan laporan dari SOCA, yang melaporkan perkembangan implementasi ASCC Blue Print. Pembahasan isu ini akan menjadi materi di Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN atau ASEAN Summit. Selain pertemuan dengan agenda yang cukup banyak, para pejabat ASEAN juga akan menikmati wisata budaya di Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Lama, dan Sam Po Kong. Semarang menjadi tuan rumah penyelenggara salah satu pertemuan ASEAN tidak lepas dari posisi Indonesia yang masih menjadi Ketua ASCC tahun 2011.
Tiga Pilar Komunitas ASEAN: Saling Tergantung, Saling Terkait, Saling Memiliki Hubungan.

Masjid Kuno Yang Terlupakan

Written by wulan on . Posted in Semarangan

Apa yang Anda pikirkan saat akan menyusuri Kota Semarang?? Makanan khasnya?? Tempat-tempat wisata dan berbelanja?? Ataukah tempat-tempat bersejarah?? Kali ini Radionya Orang Semarang Gajahmada FM, akan mengajak Anda jalan-jalan ke tempat ibadah umat Islam tertua, dan pernah menjadi Masjid terbesar di Jawa Tengah, ”Mesjid Taqwa Sekayu”.  Lokasinya tidak jauh, hanya sekitar 200 meter dari Jalan Pemuda Semarang. Mesjid yang berlokasi di jalan Sekayu, Kecamatan Semarang Tengah ini, dibangun sejak tahun 1413 M. Mesjid ini memiliki luas bangunan sekitar 174 meter persegi, yang dibangun di atas tanah seluas 349 meter persegi. Tempat ibadah ini dibangun oleh seorang ulama  asal Cirebon, Kyai Kamal, yang merupakan tokoh agama kepercayaan Sunan Gunung Jati. Berdasarkan buku sejarah milik Masjid Taqwa Sekayu, sebelum dibangun tempat ibadah, kawasan tersebut merupakan lokasi penampungan perkayuan. Kayu yang dikumpulkan ini merupakan kiriman dari sejumlah daerah seperti Ungaran, Surakarta dan Wonogiri. Seiring dengan perkembangan waktu, kampung penampungan kayu itu akhirnya berubah menjadi sebuah daerah yang kemudian diberi nama Sekayu. Sekayu sendiri merupakan kepanjangan dari sentra atau pusat kayu. Konon, kumpulan kayu jati tersebut digunakan untuk membangun Masjid Demak pada tahun 1420 Masehi. Kubah atau mustoko masjid ini dibuat dengan ciri khas Jawa. Bentuk bangunan masjid ini beberapa kali mengalami perubahan sesuai arsitektur masa kini. Sampai sekarang, Masjid Taqwa Sekayu sudah mengalami renovasi sebanyak enam kali. Namun, kubah maupun empat tiang pancang dari kayu jati yang menjadi ciri khas bangunan masjid, masih tetap dipertahankan dan dilestarikan. Kubah maupun tiang pancang ini tidak mengalami perubahan, alias asli sejak pembuatan awal masjid. Tiang pancang atau penyangga inti masjid sebenarnya berbentuk balok kayu jati. Untuk menghindari adanya kerusakan pada ukiran kayu jati, maka tiang penyangga inti selanjutnya dibungkus sisiran kayu tipis. Walhasil saat ini, yang nampak dari luar adalah tiang bulat. Konon, keempat tiang tersebut hadiah dari Sang Raja Bintoro Demak, Raden Patah, sebagai balas jasa pengabdian para ulama pendiri Masjid Sekayu yang pernah ikut serta membangun Masjid Demak. Masjid Taqwa Sekayu dibuat tujuh tahun sebelum berdirinya Masjid Demak. Artinya, tempat ibadah ini pernah menjadi masjid besar di Semarang. Sayangnya, meski menjadi masjid tertua dan pernah yang terbesar, namun akses jalannya menuju lokasi tak dapat dilewati mobil. Sebab akses jalan ke masjid di kawasan padat penduduk yang berada di dekat Mal Paragon ini, hanya selebar kurang lebih dua meter. Sumber : (berbagai sumber)

The best bonus by bet365 Ελλάδα 100% for new user.

Full Joomla 3.0 Theme free theme.